Ternyata Hp butut siemens m35 milikku masih ada aja yang ingin mencurinya. Pencurian ini terjadi pada tanggal 4 Januari 2008, di saat saya dan temen2 kos saya sedang pergi ke masjid untuk menunaikan sholat jumat.
Pulang dari masjid ada anak angkat temen kos yang bilang bahwa tadi ada orang yang masuk kamar kos saya. Anehnya orang tersebut masuk lewat jendela. Saat ditanya anak angkat temen saya, orang itu mengatakan klau dia adalah temen saya (ngakunya sih namanya Arif) dan dia ke kamar saya untuk mengambil kertas. Yah… namanya juga alibi. Setelah mendengar apa yang dikatakan anak angkat temen kos, saya langsung bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengecek. Ternyata…. HP siemens yang saya letakkan di atas bantal untuk dices saat saya jumatan telah raib. Panik, bingung, dan beberapa perasaan lain langsung masuk dan bercampur aduk dalam benak dan pikiran saya.
Apakah ini adzab karena selama ini HP saya telah menurunkan kualitas ibadah saya? Apakah HP saya membuat saya menjadi menomorsekiankan ibadah? Bingung, sedih, heran dan penasaran. Saya pun berusaha menerima kejadian tersebut dan meyakinkan diri bahwa pasti kejadian itu adalah akibat dari kesalahan-kesalahan saya dan sekaligus sebagai ujian bagi saya.
Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Setelah menjadi bahan obrolan temen2 dan beberapa orang di sekitar kos, temen saya akhirnya berinisiatif untuk menelpon ke nomer HP saya. Awalnya saat ditelpon nomer saya tidak aktif. Namun selang beberapa menit, nomer HP saya ternyata sudah diaktifkan. Dan akhirnya temen saya pun ngobrol dengan orang yang saat itu sedang memegang HP saya. Akhirnya terjadi kesepakatan untuk bertemu di depan sebuah universitas swasta yang agak jauh dari kos saya.
Takut ada skenario lain dari pencuri, temen saya pun mengajak teman2 kos yang lain. Akhirnya saya dan 7 orang temen berboncengan menuju tempat pertemuan yang tadi telah disepakati. Tak dikira, ternyata mereka juga sudah mengantisipasi tentang kedatangan kami yang rombongan. Ibarat macan masuk kandang atau bahkan seperti ungkapan yang lain, yaitu masuk kandang macan, kami digiring ke kos orang tersebut. Dan di kos orang tersebut, dijelaskan duduk perkara bagaimana HP saya bisa dipegang sama orang tersebut.
Ternyata kami sama-sama kecurian. Jadi setelah mencuri dikos saya, ternyata pencurinya melancarkan aksinya di kos orang tersebut. Dan saat mencuri di kos orang tersebut, dia bertemu dengan ibu kos dan mengatakan klau dia kesana untuk mengecas HP. Dan sebagai bukti dia mengecas HP, HP saya yang diletakkan di kos itu, dan dia mengambil 2 HP lain yang tergeletak disana.
Sungguh modus operandi dari pencuri yang cukup nekat.
Karena pencurian pertama terjadi di kos saya dan kemudian dalam waktu kurang dari setengah jam pencurinya melancarkan aksinya di kos orang tersebut, maka kami mulai memperkirakan kalau pencurinya adalah orang yang pernah ke kos orang tersebut atau minimal dekat dengan salah seorang yang mengenal daerah kos orang tersebut.
Namun sayangnya dugaan kami tak semulus perkiraan kami. Kami tetap belum bisa menemukan siapa pencurinya. Yah… mungkin ini adalah sebuah kisah yang kurang menarik, tetapi setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil oleh pembaca : Berhati-hatilah dan jaga barang-barang anda. Pencuri sekarang lebih berani dan bahkan bisa menyembunyikan niat mereka dengan mengatakan mereka adalah temen anda dan datang ke tempat anda untuk mengambil barang yang ketinggalan atau sekedar mampir beristirahat sejenak. Kata bang napi yang di stasiun TV sih : Kejahatan terjadi bukan karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah… waspadalah…
DIarsipkan di bawah: Hatiku